Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sejarah Aceh - SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO)

SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO)

SEJARAH KERAJAAN DAYA


Penduduk asli negeri Daya

Dahulu kala di hulu Krueng Daya (Sungai Daya) ada sebuah dusun bernama Lhan Na sekarang disebut Lamno, ketika dusun itu dihuni orang-orang liar belum beragama. Mereka diduga berasal dari bangsa Lanun, orang Aceh menyebut “lhan”, atau bangsa Samang yang datang dari Semenanjung Malaka atau Hindia Belakang, Burma dan Champa, diduga memiliki hubungan dengan bangsa Mongolia yang datang dari kaki bukit Himalaya.

Penduduk penghuni di hulu sungai Daya itu bercampur dengan orang-orang baru yang datang, karena percampuran peradaban mereka bertambah maju. Sejak kedatangan orang-orang Aceh Besar (Lamuri) dan Pasai orang-orang di pesisir negeri Daya berangsur-angsur masuk agama Islam.

Asal nama Negeri Daya

Pada pertengahan abad ke-15 Masehi terjadi perang antara Raja Pidie melawan Raja Pasai, terjadi pemberontakan oleh Raja Nagor bekas pahlawan Pasai yang dihukum. Dalam pertempuran itu Raja Pasai kalah, Sultan Haidar Bahiyan Syah tewas, singgasana Pasai dirampas oleh Raja Nagor Pidie pada tahun 1417. Sejak saat itu Raja Nagor memerintah negeri Pasai, terdapat banyak pertentangan dengan keturunan keluarga Sultan Pasai sehingga banyak yang dibunuh. Beberapa keturunan keluarga Pasai menghindarkan diri pergi mencari dan membuka negeri baru, salah seorang sampai ke Daya. Negeri ini dinamakan berdasarkan kejadian ini, Daya itu bermakna tidak berdaya lagi, telah habis dan cukup banyak usahanya.

Pantai di Daya, dilihat dari Lamno di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 1926; Sumber KITLV.
Pantai di Daya, dilihat dari Lamno di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 1926; Sumber KITLV.
Pantai di Daya, dilihat dari gunung Geurutee di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 2020.
Pantai di Daya, dilihat dari gunung Geurutee di selatan Koetaradja (Banda Aceh) tahun 2020.

ADVERTISEMENT

REPORT THIS AD

Menurut cerita oral bahwa pada zaman itu (dahulu) ketika turunan Raja Pasai atau orang yang (akan) menjadi raja sampai di Kuala Daya, perahunya kandas. Semua isi perahu dikeluarkan dan semua orang turun untuk menarik perahu namun tetap kandas. Maka pemimpin mereka menyebut sudah cukup usaha tenaga dan daya upaya, tetapi tidak berhasil. Mereka merasa “Tidak Berdaya” dan mereka mendirikan pemukimam di Kuala Daya, kemudian negeri itu dinamakan “Tidak Berdaya”. Lama-lama menyebut nama “Tidak Berdaya” itu dengan “Daya” saja. Menurut cerita lain bahwa Raja Daya pertama adalah keturunan Raja Aceh yang mengasingkan diri kemudian membuka negeri karena berselisih dengan saudaranya.

Asal nama Negeri Lamno

Ketika Raja Daya melakukan ekspedisi ke hulu Sungai Daya untuk memeriksa penduduk negeri dan sampai ke tempat yang sekarang terletak di Peukan Lamno (Pasar Lamno). Disana didapati penghuni kampung yang mirip orang Lanun dari Malaya atau Hindia Belakang. Orang lanun disebut orang Aceh disebut orang Lhan. Orang Lhan masih liar, belum berpakaian kain, pakaiannya dari kulit kayu dan kulit binatang yang tipis. Orang Lhan adalah penduduk yang sudah ada di situ, maka disebut “Lhan Kana” atau “Lhan Na” artinya orang Lhan sudah ada di situ. Pada masa Kesultanan Aceh Darussalam disebut dengan “Lam Na” dan ketika Belanda datang ucapan berubah menjadi “Lam No” dalam sebutan serdadu-serdadu marsose dari suku Jawa yang menyebut Lanno.

Salah satu negeri kerajaan Daya adalah Negeri Keuluang, pemimpinnya disebut Raja Keuluang terdiri dari empat daerah:

Keuluang;

Lam Beusoe;
Kuala Daya;
Kuala Unga.

Adapun Kuala Lam Beuso asalnya karena dahulu pada suatu waktu ada perahu yang berisi besi muatannya sedang didayung terbenam di kuala, sebab itulah nama Kuala Lam Beuso, kemudian berubah menjadi Lam Beuso saja.

Sejarah Sultan Meureuhom Daya

Menurut pemeriksaan Hussein Djajadiningrat Sultan Meuruhom Daya meninggal tahun 1508 Masehi. Sultan Meureuhom Daya aslinya bernama Uzir anak Sultan Inayat Syah bin Abdullah al-Malikul Mubin yang bersaudara dengan Sultan Muzaffar Syah raja di Aceh Besar, dan bersaudara juga dengan Munawar Syah raja di Pidie. Diyakini bahwa negeri Keuluang Daya didirikan pada akhir abad ke-15 Masehi oleh Meureuhom Daya atau Meureuhom Unga.

Negeri Daya menjadi maju dibawah pemerintahan Sultan Meureuhom Daya bertambah maju dengan pertanian merica atau lada, banyak didatangi oleh para saudagar Arab, Tiongkok dan Pegu. Pada abad ke-16 Masehi datanglah orang Belanda, Inggris, Perancis dan lain.

Asal Keturunan Portugis atau Dara Portugis di Lamno

Menurut sahibul hikayat ketika armada Portugis dibawah pimpinan Alfonso Alberqueque hendak menaklukkan kota Malaka tahun 1511 Masehi, Raja Portugis mengirimkan pasukan bantuan tapi pasukan tersebut tidak pernah sampai karena terdampat di pesisir Barat Aceh tepatnya kota Lamno, Aceh dan kehilangan kontak dengan pasukan induknya di Goa (India) pusat koloni Portugis di Timur Jauh maupun dengan pasukan Portugis di Malaka, Mereka segera ditawan oleh Sultan Meureuhom Daya untuk mengembangkan armada. Riwayat menerangkan di hulu Kuala Lam Beusoe dahulu banyak ahli teknik membuat kapal-kapal besar seperti Top, Sekuna, Jong, dan Ghali (kapal perang model kapal perang Spanyol/Portugis), pembuatan meriam dan mesiu untuk keperluan perang dan pengkutan bahan-bahan perang.

Dara Portugis yang melegenda kecantikannya.

Daerah Daya ini paling banyak tinggal peranakan dari bangsa Portugis di Aceh sampai sekarang. Perawakan mereka kulitnya putih (jagat), badannya tegap dan matanya biru seperti kebanyakan bangsa Eropa. Masyarakat Aceh menyebut mereka suku mata biru, setelah tsunami Aceh tahun 2004 jumlah mereka menjadi semakin sedikit. Para perempuan dari keturunan Portugis disebut dengan julukan kondang “Dara Portugis” bahkan banyak para pemuda dari Aceh maupun luar Aceh mencari jodoh ke pesisir Barat, siapa tahu dapat mempersunting “Dara Portugis” tersebut.

Legenda Harimau Daya atau Rimueng Daya

Ada sebuah dongeng lama, kisah ini diwarisi dari waktu pra-Islam menceritakan, di bagian Kerajaan Daya (Kabupaten Aceh Jaya sekarang) ada sebuah wilayah bernama Lhok Kruet. Di wilayah ini ada orang kampung biasa yang malam harinya menjadi harimau. Atau disebut dengan julukan Rimueng Daya (Harimau Daya)

Menurut legenda orang-orang yang mampu berubah ini tidak memiliki filtrum atau bahasa latinnya philtrum, atau oreng. Yaitu lekukan vertikal di bagian tengah bibir atas. Pada umumnya setiap mamalia memilikinya, yang memanjang dari bawah hidung sampai ke bibir atas.

By : Teuku Malikul Mubin.

Posting Komentar untuk "Sejarah Aceh - SEJARAH KERAJAAN DAYA (LAMNO)"