Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sejarah Aceh - Migrasi Berbeda Dengan Immigrasi (II)

 Migrasi Berbeda Dengan Immigrasi (II)

Mas Fauzan Santa Maria mantan penghuni Bivak Belanda dan Mas Khairul Nissan Almira, Komunikasi Mahasiswa Pemuda Achèh, Jakarta, Indonesia, kepada anda berdua ditanyakan:

Ditahun 1602, Kerajaan Belanda yang masih sedang dibawah kuasa (penjajahan) Spanyola, telah datang memintakan pada Kerajaan (Negara) Achèh agar memberikan pengakuan Internasionalnya. 

Telah terjelaskan sebelumnya bahwa, Penjajah India Belanda, hanya bisa bertapak di Pulau Jawa (1596)  dan bisa menjajah wilayah-wilayah diluar Pulau Jawa adalah dikarenakan Raja-Raja Jawa, Rakyat Jawa dan Oelama-Oelama Jawa, telah memperkenankannya: Mongo-Monggo Ndro - Kepala kuning, rambut jagung!

Akan tetapi diketika Penjajah India Belanda baru berkehendak menapakkan tapaknya di Bumi Achèh Iskandar Muda,  langsung dijeqal dan diekskusi digeladak kapal perangnya (1599) oleh Laksamana Keumalahayati, siapa yang telah dikenal oleh dunia, sebagai Laksamana Laut Wanita yang pertama dunia.

Lantas, setelah Penjajah India Belanda, mula menduduki Kerajaan Siak, sebagai Wilayah Pertahanan Laut Kerajaan (Negara) Achèh, terujung sekali di Selat Melaka, di Muara Sungai Indragiri, yang berdepan dengan laluan Selat Natuna, maka Penjajah India Belandapun, mulai bersiap-siap untuk menyerang Kerajaan (Negara) Achèh, sebuah kerajaan yang merdeka dan berdaulat.

Mas Fauzan Santa Maria mantan penghuni Bivak Belanda, dan Mas  Khairul Nissan Almaera, Komunikasi Mahasiswa  Pemuda Achèh, Jakarta, Indonesia.

Dengan resminya ditahun 220 -150 BC, (sebelum masehi), Kerajaan (Negara) Achèh telah membina hubungan Bilateral-Diplomatic Relationship,dengan Kerajaan (Negara) China.

Maka,  oleh Prof Dr Moehammad Yamin SH, lewat saduran sejarah China, telah memproklamirkan bahwa, Achèh dan China, telah menciptakan "Sejarah Hubungan Diplomatik Pertama Didunia", melangkahi Parsia, Mesopotamia, Yunani, Assyria, Romawi, Mesir, India dan China sendiri.

Jadi disini anda berdua:  Mas Fauzan Santa Maria, mantan penghuni Bivak Belanda dan Pak Khairul Nissan Almaera, Komunikasi Mahasiswa Pemuda Achèh, Jakarta, Indonesia, sudah bisa melihat dan menyaksikkannya bahwa:

Sudah sejak 2725 (dua ribu tujuh ratus dua puluh lima) tahun sebelum Pulau Jawa dimerdekakan oleh Anak-Anak Sumatra yang Komunis dan yang Sosialis, dari Agressor Penjajah Jepang, pada tanggal 17 Agustus, 1945, jam 10:00 pagi waktu Jepang, maka secara resminya Kerajaan (Negara) Achèh, telah terakui sebagai sebuah negara di Gelanggang International.

Achèh satu-satunya sahabat China, didunia dan bermula dari sejak 220 BC!

bahwa: 

Ketika Kerajaan (Negara) Achèh, yang merdeka dan berdaulat itu, mula membenah dan membangunkan Kerajaan (Negara) Achèh modernnya dibawah Sultan Ali Mughayat Shah (1496-1528), maka barulah 100 (seratus) tahun kemudiannya Penjajah India Belanda, mula menjajah Pulau Jawa (4 July, 1596). 

Nah,  Mas Fauzan Santa Maria mantan penghuni Bivak Belanda, dan Mas Khairul Nissan Almaera, Komunikasi Mahasiswa Pemuda Achèh, Jakarta, Indonesia, dimintakan untuk membayangkannya!

bahwa, anda berdua sekarang ini telah dipahamkan yang Achèh itu adalah salah satu negara tertua di Nusantara ini, bahkan di Asia Tenggara, dengan Wilayah Status Quo Anté Bèllum-nya:

Sumatra, Semenanjung Malaya (+Singapura), sebahagian Kalimantan Barat dan Jawa Barat, termasuk Jakarta atau sekitaran 30-35% wilayah Nusantara hari ini, sebagaimana ikut dua peta yang dibuat dengan resminya oleh Kerajaan Inggeris dan sebuah peta lagi, yang dibuat dengan resminya oleh Kerajaan Perancis.

Dengan Kerajaan Turkya, terbinalah hubungan diplomatik bilateral, ketika Turkya dibawah pemerintahan Sultan Salim II (1524-1574), setelah Turkya mengetahui Achèh telah menemui minyak buminya (crude oil) dari suatu lapisan geologis tertentunya.  

Achèh dikenal oleh dunia, sebagai penemu minyak bumi pertama didunia (dapatkan bacaan dari sejarah yang dieksposekan oleh Pertamina, diantarannya lewat sebuah kalendernya). 

Dan Azerbeyzan, penemu minyak bumi, kedua didunia , sedang secara scientifik di Texas, dari rekahan fault-fault bawah buminya.

Achèh satu-satunya sahabat Turkya, didunia dan bermula dari sejak Pemerintah Sultan Selim II (1524-1574)!

Jadi Mas Khairul Nissan Almaera.

Lada Setjupak Achèh, "bingkisan" untuk Turkya, ketika membalas kunjungan diplomatiknya,  bukanlah ianya ditanam dibukit yang curam dan dipermukaan tanah yang singèt, tetapi di tanah dataran, tanah yang rata,  sebagaimana, lagèë geupula kunjèt, temu lawak dan temu iréng,  untuk buat ramuan jamu gendong!

Drs  Tengku Nab Bahany As, Mas Fauzan Santa Maria, mantan penghuni Bivak Belanda dan Mas Khairul Nissan Almera, Komunikasi Mahasiswa Pemuda Achèh, Jakarta, Indonesia yang mana kepada anda bertiga patut dijelaskan kembali bahwa,  Achèh itu cq Kerajaan (Negara) Achèh, adalah sebagai sebuah Kerajaan yang merdeka berdaulat,  sebagaimana telah juga ditegaskan berulangkali oleh Bapak Prof Dr Asvi Adam Warman dari Lembaga Ilmu Pengertahun Indonesia (LIPI). Ingat ini, sebelum sejarah itu mati!

Makanya, ketika Agressor Penjajah Belanda hendak mengaggressor Kerajaan(Negara) Achèh, telah dilakukannyalah:

(01) - Memaksakan Kerajaan (Negara) Achèh memutuskan hubungan persahabatan dengan Kerajaan (Negara) Turkya.

(02) - Menyogok Penjajah Inggeris dengan Gold Coast (Ghana), agar memutuskan perjanjian pertahanan antara Kerajaan (Negara) Achèh dengan Kerajaan (Negara) Inggeris - Treaty of London (1619). 

Lord Stanley dari Alderly, mengamuk di House of Lord, karena Pemerintah Penjajah Inggeris, pemerintahnya sendiri,  telah mengingkari Treaty of London 1619 yang telah lama dimeteraikandan, sejak 251 (dua ratus lima puluh satu) tahun sebelum beliau berucap didepan sidang seperti dibawah ini: 

--- "Kerajaan (Negara) Achèh, telah tegak sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat, diketika Belanda, masih lagi dibawah penjajahan Spanyola". --- 

Marahnya beliau itu, seperti marahnya Lord Avebury,  kepada Duta Besar Inggeris-nya, di Kuala Lumpur, Malaysia, dikarenakan Panglima Prang Tengku Hamzah - Gajah Kèng dan rakan-rakan, telah diserahkan pada Polis Di Raja Malaysia (PDRM), diketika beliau dan rakan-rakan datang memohon perlindungan politik di kantor kedutaannya : 

Berkatalah Lord Avebury: ............. "bangsa Achèh telah beratus tahun berjuang untuk kemerdekaannya, tetapi anda telah  menyerahkannya, ketika mereka memohon perlindungan politik dikantor kedutaan anda (1997)" 

Lord Avebury, Ketua Hak Azasi Manusia,  di House of Lord, London, adalah cucu dari Lord Stanley, sahabat paling kental (solid friend) Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro LLD. 

Beliaulah yang telah menyampaikan sebuah makalah: Achèh Kelahiran Baru (Achèh, The New Birth) dari Dr Tengku Hasan Muhammad di Tiro LLD, kedepan House of Lord-Parlemen Tinggi Inggeris di London.

(03) - Treaty of Siak (1870)
(04) - Treaty of Sumatra (1871)
(05) - Ultimatum Pernyataan Perang (1873) 

(06) - Setelah terbentuknya Negara Republik Indonesia Serikat (NRIS) 27 Desember, 1949, Achèh tidak menyertainya, sebagai negara anggota NRIS, sebab Achèh satu-satunya wilayah di Nusantara, yang tidak pernah menyerahkan kedaulatan negaranya pada Agressor Penjajah India Belanda, sebab lain adalah Kerajaan (Negara) Achèh, sama status kenegaraannya dengan Kerajaan (Negara) Belanda itu sendiri. 

Jadi dari beberapa keterangan diatas, maka bisalah kiranya disimpulkan oleh kedua:  Mas Fauzan Santa Maria, mantan penghuni Bivak Belanda dan Mas Khairul Nissan Almera, 

Komunikasi Mahasiswa Pemuda Achèh, Jakarta, Indonesia, kalau sekiranya masuknya anda berdua ke Achèh ikut rombongan Transimgrasi R.I., maka tersebutkanlah kemasukkan anda berdua itu,  sebagai: 

ber-transmigrasi (tranmigrant), tetapi kalau mengikut ketentuan Kerajaan (Negara) Achèh, yang masih berdaulat itu, yang walaupun pada 15 Agustus, 1950,  telah digiring paksa oleh Soekarno dan oleh Hamengkubuwono IX, dengan buldozer: PP No 21/08/1950, maka anda berdua akan dianggap sebagai ber-Migrasi (migrant).  

Camkanlah ini!  Dan anda akan ditetapkan visa izin masuk, sebagai turis dari Pulau Jawa, walaupun sementara Achèh masih belum merdeka kembali dan masih dibawah Indonesia, seperti Scottlandia masih dibawah Inggeris, United Kingdom (UK)!

Katakanlah ianya seperti ketika anda sedang mengunjugi wilayah Tembok Berlin (Berlin Wall) disana akan terlihat duduk dibeberapa counter stand, dibawah payung langit, dengan uniform dan cap resminya, seperti uniform dan cap resminya "immigrasi" Negara Jerman.

N.B.:  Copy Surat dari Lord Avebury, Ketua Hak Azasi Manusia Inggeris di House of Lord,  kehadapan Wali Negara (Presiden) Negara Achèh Sumatra, yang dikirim sempena Ultah Ke-115 (26 Maret, 1873-26 Maret, 1998) Penyerangan Agressor Penjajah,  Belanda atas Kerajaan (Negara) Achèh, yang merdeka dan berdaulat, mungkin masih tersimpan rapi pada PM Dr Tengku Yusra Habib Abdul Gani SH, Kepala Pemerintahan Negara Achèh Darussalam in excile.

Congratulations, Syabas - Sabah, atas terlantiknya PM Dr Yusra Habib Abdul Gani SH, di Ultah Reproklamasi Negara Achèh Sumatra Ke-44) 

{bersambung: Migrasi Berbeda Dengan Immigrasi (III)}

Posting Komentar untuk " Sejarah Aceh - Migrasi Berbeda Dengan Immigrasi (II)"