Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sejarah Aceh - Lembaga Wali Nanggroe

 Lembaga Wali Nanggroe

Lahirnya UU No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh memberi harapan baru Aceh, khususnya terkait dengan keberadaan lembaga adat. Artikel ini ingin menjawab keberadaan salah satu lembaga yang mengkoordinasi lembaga adat di Aceh. Keberadaan lembaga Wali Nanggroe sebagai lembaga baru diharapkan dapat mengemban lembaga kepemimpinan adat sebagai pemersatu masyarakat dan pelestarian kehidupan adat dan budaya.

Pasal 1 angka (17) UU 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh menyebutkan bahwa Lembaga Wali Nanggroe adalah lembaga kepemimpinan adat sebagai pemersatu masyarakat dan pelestarian kehidupan adat dan budaya.

Dalam sejarah Aceh sendiri sudah lama mengenal adanya Wali Nanggroe, ketika ekspedisi Swieten akhirnya berhasil menduduki istana yang ditinggalkan Sultan Alidin Mahmudsyah yang mengungsi ke Lueng Bata. Sultan akhirnya mangkat karena penyakit kolera ketika perang sedang memuncak. Saat itulah wali ditunjuk. Panglima Sagi dan sejumlah ulama bersepakat untuk mendudukan Tuanku Hasyim Banta Muda sebagai lambang persatuan dan pimpinan yang berwibawa untuk mengendalikan pemerintahan dan rakyat. Tuanku Hasyim bertindak sebagai wali dengan jabatan mangkubumi yang berwenang bertindak atas nama sultan.

Sejumlah catatan menunjukkan posisi wali sebagai pemersatu, terutama ketika masa perang, sangat terasa. Dalam kondisi pengendali kerajaan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, posisi wali yang mampu mengontrol kondisi Aceh waktu itu sangat bermakna dan berposisi sangat penting. Wali Nanggroe dalam sejarah Aceh masa lalu hanya menjabat sampai dengan Sultan mencapai usia dewasa dan sampai dipandang sudah mampu menjalankan pemerintahan.

Tentunya berbeda dengan keadaan sekarang. Saat ini Keberadaan lembaga Wali Nanggroe diwujudkan karena perintah UU adalah merupakan inovasi sejarah. Lembaga Wali Nanggroe dimaksudkan sebagai lembaga adat dan simbol pemersatu rakyat Aceh. Perintah UU sendiri juga berkaitan dengan perintah penyusunan Qanun Wali Nanggroe. Proses tersebut menjadi tugas berat pihak eksekutif dan legislatif untuk mewujudkan lembaga wali nanggroe yang bisa diterima oleh seluruh rakyat Aceh baik yang berada di pantai barat selatan, Leuser antara, dan pesisir timur dan utara Aceh.

Maka untuk itu marilah kita bersama-sama menyimak kisah hidup Tuanku Hasyim sebagai Wali Nanggroe Aceh yang paling kompeten, paling menjadi contoh serta teladan hidup bagi kita semua, seorang pahlawan mulia.

Sekuntum Bunga Puisi Kepada Tuanku Hasyim Bangta Muda Karya Vichitra ditahun 1949

Keturunan dan Nasab Tuanku Hasyim

Tuanku Hasyim Bangta Muda lahir di Kampung Lambada dalam Sagi Mukim XXVI Aceh Besar, sekitar 1834 M Ayahnya bemama Laksamana Tuanku Abdul Kadir yang semasa hidupnya memangku jabatan perwalian (Vinceroy) di Aceh Timur. Tuanku Hasyim Bangta Muda bersaudara tiga orang, diantaranya ialah Tuanku Raja Itam dan Tuanku Mahmud Bangta Keucik. Ia adalah putera yang tertua dari tiga bersaudara ini.

Adapun asal-usul serta silsilah keturunannya, Tuanku Hasyim Banta Muda adalah putera laksamana Tuanku Abdul Kadir, ibnu Raja Muda Tuanku Cut Zainal Abidin, ibnu Sultan Alaidin Mahmudsyah, ibnu Sultan Abidin Johan Syah, ibnu Sultan Alaidin Ahmad Syah, ibnu Nuruddin Abdurahim Maharaja Lela, ibnu Fakih Zainal Abidin Syah, Ibnu Malik Daim Mansyursyah, ibnu Abdullah Al Malikul Amin, ibnu Malik Syah Daim Syah, ibnu Abdul Jalil Daim Husin Syah, ibnu Malik Mahmud Hakim Syah, ibnu Musa Daim Syah, ibnu Hasyim Nuruddin Syah, ibnu Mansyur Syah, ibnu Sulaiman Syah Daim Ali Iskandar, ibnu Malik Ibrahim Syah Daim, yaitu saudara sewali dari tokoh Alaidin yang bernama Machdum Abi Abdillah As Syieh Abdurauf Al Mulaqqab Tuan di Kandang Syech Bandar Darussalam.

Pada tahun 495 Hijrah rombongan yang terdiri dari 500 orang berhasil mengIslamkan penduduk Aceh Raya Kemudian sebahagian rombongan ini di bawah pimpinan Mansyur meneruskan perjalanannya dalam dakwah Islam ke Makasar. Sedang sebahagian termasuk keturunan Machdum Abdi Abdillah Johan Syah – Ali Mughayat Syah – Iskandar Muda terus bermukim dan menetap di Aceh untuk menyempurnakan pertumbuhan dan melaksanakan pembangunan Aceh dalam segala bidang.

Setelah beberapa tahun kemudian, Mansyur Syah keturunan Ibrahim Syah Daim kembali dari Makasar ke Aceh, dan setelah beberapa kali pergantian Sultan dari garis keturunan satu dan lain maka cicit Mansyur Syah diangkat menjadi Sultan Aceh yang bernama Alaidin Ahmad Syah. Kemudian yang terakhir Sultan Alaidin Mahmud Daud Syah. Pada masa inilah Tuanku Hasyim mulai memegang peranan dan turun ke arena pertempuran menghadapi serangan Belanda.

Pendidikan Tuanku Hasyim

Di usia dua belas tahun Tuanku Hasyim Bangta Muda sudah sering masuk ke Keraton dan tinggal bersama keluarga keraton bersama Sultan. Ia adalah anak kesayangan Sultan Alaidin Ibrahim Mansyur Syah, sehingga kemana Sultan pergi ia sering dibawa serta. Karena itu banyaklah pengalaman yang didapatnya sebagai ilmu terutama dari musyawarah yang diikutinya baik dalam lapangan politik maupun pengetahuan dalam memimpin pemerintah kenegaraan dan sebagainya. Ketika menjelang dewasa sudah nampak keistimewaan yang dimilikinya, dan ia telah menjadi kepercayaan Sultan.

Mengenai pendidikannya tidak jelas diketahui, tetapi menurut keterangan dan sepak terjangnya, dari orang yang dekat, dan tulisan orang barat ia memiliki ilmu kesaktian. Begitu juga dalam kemiliteran ia memiliki ilmu strategi peperangan yang hampir setara dengan lepasan akademi militer Belanda.

Di samping itu ia sangat tekun memperdalam ilmu agama, sehingga ia terkenal sebagai seorang yang saleh dan taat pada agama. Oleh Karena itu segala tindakannya selalu berdasarkan ajaran agama. Untuk ini ia selalu mendekatkan diri dengan para ulama. Dalam berbicara ia banyak menguasai bahasa asing dan bahasa yang berlaku di wilayah Aceh.

Pribadinya sangat mengesankan, bijaksana, tajam firasat dan lebih menarik ia tidak punya pamrih untuk menjadi pemimpin. Demikianlah karena sifatnya yang terpuji ini ia diangkat menjadi Panglima Tertinggi Angkatan Perang Aceh. Kemudian ia menyusun kekuatan Aceh dan selanjutnya ia turun ke lapangan langsung memimpin pasukan Aceh untuk menghadapi tentera Belanda. Karena taktik dan siasatnya yang tepat, tentara Belanda merasa berat untuk dapat menduduki Aceh.

Tuanku Hasyim menjadi Wali (Vinceroy) Sultan Aceh di Sumatera Timur

Setelah ayahnya, Laksamana Tuanku Abdul Kadir, meninggal dunia, Tuanku Hasyim Bangta Muda ditunjuk oleh Sultan Aceh untuk menjadi panglima di Aceh Timur dengan daerah yang meliputi Simpang Ulim dan Langkat. Sebagaimana diketahui Laksamana Tuanku Abdul Kadir semasa hidupnya diserahi kepercayaan perwalian Aceh Timur dan Langkat.

Pada tahun 1858 karena kebijaksanaan dan kecakapannya, Tuanku Hasyim Bangta Muda diangkat menjadi Wali Sultan Aceh di daerah Sumatera Timur dan wilayahnya meliputi Deli dan Serdang. Dengan memasukkan Sumatera Timur, wilayahnya sekarang terbentang dari Aceh Timur yaitu  dari Simpang Ulim sampai ke Serdang, untuk mempertahankan wilayah ini, ia mengatur basis pertahanan pada tempat yang strategis dan kemudian menyusun kekuatan sebagai pertahanan pada garis terdepan, untuk basis pertahanan ini ia memilih pulau Kampai. Pulau Kampai dibangun sedemikian rupa sehingga merupakan benteng yang terkuat . Hal ini karena pulau Kampai terletak pada jalur pelayaran di Selat Malaka. Dengan memperkuat pulau ini, wilayah Aceh pada bagian Timur akan dapat dibendung dari kemungkinan serangan laut musuh.

Untuk membangun kemakmuran rakyat, ia mememerintahkan kepada rakyat untuk menanam lada. Dengan hasil pertanian lada kehidupan rakyat lebih meningkat dan sekaligus menambah penghasilan negara, Kota-kota pantai sepanjang wilayahnya menjadi lebih ramai akan perdagangan lada, dalam beberapa tahun saja jalur perdagangan makin menjadi luas dan pedagang Aceh telah menempatkan agen-agennya di Penang.

Dalam taktik dan siasat perang Tuanku Hasyim membentuk sebuah badan yang disebut panitia delapan dengan ketuanya ditunjuk Tengku Paya, orang penting yang dekat dengan Tuanku Hasyim, ia sengaja didatangkan dari Aceh Besar ke Aceh Timur dalam merintis penanaman lada. Panitia delapan mempunyai agen tetap yang berkedudukan di Penang. Tugasnya yang paling berat di samping perdagangan juga menyiasati gerak-gerik Belanda di Selat Malaka.

Pada zaman pemerintahan Sultan Alaidin Mansyur Syah, Belanda telah memulai usaha untuk mencaplok wilayah Aceh pada bagian Timur yang kemudian mereka berhasil menduduki Siak. Kemudian Belanda mengirimkan utusannya untuk menemui Sultan Aceh dengan maksud akan mengikat persahabatan, tetapi dibalik itu Belanda secara diam-diam telah memulai aksinya dengan membujuk Sultan Siak. Hasilnya sangat merugikan Aceh, karena wilayah Sumatera Timur yang berada dalam kekuasaan Sultan Siak termasuk Tanah Putih sampai Tamiang mengakui kedaulatan Belanda.

Konflik Aceh dan Belanda di Sumatera Timur

The ancient map of the Aceh Sultanate

REPORT THIS AD

Demikianlah dalam tahun 1853 Tuanku Hasyim Bangta Muda telah diserahi tugas yang berat. Untuk ini segala persoalan yang terjadi di wilayah Aceh Timur akan menjadi tanggung-jawabnya. Setelah Belanda berkuasa di Sumatera Timur, banyak daerah yang mulai ragu akan kekuatan Aceh dan berusaha melepaskan diri. Menghadapi hal ini Tuanku Hasyim berusaha menanamkan kepercayaan pada rakyat, bahwa wilayah tersebut merupakan daerah kekuasaan Aceh yang penuh. Dalam kegiatan ini raja-raja kecil yang telah bimbang kepercayaannya dapat diinsyafkan kembali, maka dapat ditarik kembali ke pihak Aceh.

Melihat gerak-gerik ini Tuanku Hasyim meningkatkan kegiatannya. Benteng-benteng pertahanan diperkuat, alat perlengkapan perang ditambah. Untuk memperlengkapi alat persenjataan beliau berusaha memasukkan senjata dari Penang sebanyak 15,000 (lima belas ribu) pucuk senapan dan beribu peti peluru yang dibeli dengan cara barter.

Dalam strategi pertahanan benteng-benteng terus dibangun, sebagai rangka dalam menghadapi kemungkinan serangan Belanda. Siasat Tuanku Hasyim untuk mematahkan semangat para tokoh yang cenderung memihak pada Belanda, ialah memulai serangan terhadap Belanda.

Adapun orang yang memihak pada Belanda seperti Pangeran Musa Langkat dapat disadarkan dengan jalan mengawini anaknya yang bernama Tengku Ubang. Dengan demikian Pangeran Musa Langkat menjadi mertua Tuanku Hasyim. Biarpun begitu Tuanku Hasyim akan selalu berhati-hati terhadap Pangeran Musa Langkat.

Begitu juga Sultan Muhammad Syekh atau Mat Syekh dapat diinsafkan dan kemudian dapat dijadikan kawan yang baik untuk menghadapi Belanda yang akan menduduki daerah Langkat. Di daerah Tamiang Sultan Muda yang berpihak kepada Pangeran Musa digantikan dengan Raja Bendahara menjadi Raja Seruay. Dengan demikian dapatlah dibasmi musuh dalam selimut oleh Tuanku Hasyim.

REPORT THIS AD

Setelah semua dapat dipulihkan, Tuanku Hasyim mengarahkan pandangannya untuk memperkuat pulau Kampai sebagai pertahanan terdepan. Pulau Kampai adalah merupakan pelabuhan dan pertahanan yang strategis di daerah Langkat, untuk menghadapi serangan Belanda ia memperkuat kubu pertahanan dengan dilengkapi peralatan yang cukup. Hal ini dapat berjalan lancar, karena penguasa pulau ini juga adalah orang Aceh yang diangkat Cut Bugam oleh Raja Tamiang, Raja ini bernama Nyak Asan, ia diangkat sebagai pengganti ayahnya. Pada mulanya benteng ini dibangun oleh laksamana Tuanku Abdul Kadir, oleh sebab itu Tuanku Hasyim hanya memperhaharui dan menambah perlengkapan yang diperlukan.

Kemudian beliau membangun lagi benteng pertahanan di Tanjung Pura, Gebang, Besitang, Pangkalan Siata, Bentong Bugak, Pasir Putih, Tualang dan Manyak Payed. Untuk mengepalai benteng-benteng ini diangkat seorang pemimpin yang dikoordinir langsung oleh Tuanku Hasyim. Ia sendiri bermarkas di benteng Pulau Kampai, dengan dibantu oleh Panglima Raja Itam, Adik kandung Tuanku Hasyim, dan Panglima Teuku Cut Latif. Dengan demikian pertahanan-pertahanan Aceh di bagian Timur telah teratur rapi.

Dalam tahun 1862 Tuanku Hasyim secara diam-diam bergerak menuju Batubara untuk menawan Datuk Bungak yang memihak kepada Belanda. Kemudian ia meneruskan perjalanannya ke Bengkalis untuk menemui Asisten Residen Belanda, Arnold. Tujuannya ialah untuk membicarakan beberapa daerah di Sumatera Timur yang melepaskan diri dari Aceh dan mereka yang telah memihak kepada Belanda. Dalam pembicaraan ini Tuanku Hasyim merasa dirugikan, karena rupanya pulau Kampai telah disediakan untuk basis penyerangan Belanda terhadap wilayah Aceh.

Tiga bulan kemudian Belanda mengirimkan Raja Burhanuddin untuk menyelidiki situasi di Sumatera Timur, dan dalam waktu yang bersamaan datang pula Wetscher dengan ka pal perang Belanda dengan tujuan untuk menyerang langkat, tetapi penyerangan dapat dipatahkan oleh Tuanku Hasyim. Kegagalan Belanda pada penyerangan ini mengurangi kepercayaan Belanda pada Pangeran Langkat, karena Pangeran Langkat tidak menepati janji yang dibuatnya dengan pihak Belanda. Hal demikian disebabkan tindakan Tuanku Hasyim yang lebih cepat dan lebih cekatan. Karena itu untuk kedua kalinya Netscher merasa perlu mengunjungi Pangeran Langkat, tetapi tiada membawa hasil yang diharapkan. Kunjungan ini tidak mendapat tanda tangan persetujuan kedua belah pihak. Sesungguhnya Sultan Langkat akan mendirikan Kerajaan Langkat, tetapi terbentur, karena Langkat masih bernaung di bawah Aceh. Oleh sebab itulah maka Pangeran Langkat mau bekerja sama dengan Belanda untuk melepaskan diri. Akan tetapi yang menjadi persoalan ialah tentang wilayah Tamiang. Kejuruan Tamiang sendiri menentang masuknya kekuasaan Belanda. Karena pengaruh Tuanku Hasyim. Sebab itulah maka kekuasaan Pangeran Langkat menjadi lemah. Karena itu Belanda membentuk Kesultanan Langkat dengan tidak menggabungkan Tamiang dan Aru, sedang teluk Aru merupakan pusat kekuatan, terletak di pulau Kampai yang telah diperkuat oleh Tuanku Hasyim.

Pada tahun 1863 Residen Belanda mencoba sekali lagi menyelesaikan masalah Langkat. Ia datang dengan perlengkapan perang dan dua kapal, dengan tujuan memukul kekuatan Tuanku Hasyim. Tetapi karena kuatnya pertahanan Aceh, Belanda tak dapat mendekati pulau Kampai. Bahkan mereka disambut dengan tembakan meriam, sehingga pasukan Belanda terpaksa mundur kembali.

Rupanya Netscher tidak berputus asa merebut pulau Kampai. Pada penyerangan ini ia mcngikutsertakan Raja Burhanuddin sebagai penyelidik pertahanan Aceh. Tetapi melihat kekuatan Tuanku Hasyim yang menantinya, mereka mengubah haluan kapalnya kembali. Dari jauh mereka memperhatikan bendera Aceh berkibar dengan megah. Kemudian mereka menunjukan arah kapalnya ke Bengkalis.

Benteng Pulau Kampai yang dibangun Tuanku Hasyim telah empat kali mendapat serangan dari Belanda, tetapi dapat digagalkan oleh pejuang Aceh. Begitu juga penyerangan Belanda dari darat dan laut terhadap langkat dapat dipatahkan oleh Pasukan Tuanku Hasyim dan juga penyerangan Netscher kedua kalinya ke Sumatera Timur dapat digagalkan.

VOC ships, the pirates white, proclaimed the civilizing mission to the nations in the archipelago. Though clearly, the purpose behind them came to the archipelago is there to “colonize” the natives.

Setelah beberapa kali Belanda mengalami kegagalan, kemudian mereka mengirim mata-mata untuk menyelidiki gerak-gerik dan benteng pertahanan Tuanku Hasyim.’ Begitu Belanda mendapat kabar, bahwa Tuanku Hasyim sedang berada di pusat atas panggilan Sultan Aceh, maka Belanda segera mengerahkan kekuatannya menyerang Pulau Kampai, waktu itu pimpinan pertahanan Pulau Kampai diserahkan kepada Tuanku Itam yang dibantu oleh Teuku Cut Latif. Serangan yang cepat itu berhasil dan Belanda dapat merebut benteng pulau Kampai pada tahun 1865.

Sesudah jatuhnya benteng Pulau Kampai ke tangan Belanda sekembalinya Tuanku Hasyim dari pusat, ia memindahkan pusat kekuatannya ke Manyak Payed. Kemudian ia membangun dan menyusun kekuatannya. Selanjutnya ia meningkatkan kegiatan Panitia delapan demi kepentingan perang. Adapun tugasnya, selain perdagangan, yang lebih penting ialah mengawasi kegiatan Belanda di Selat Malaka dalam usahanya menyerang Aceh. Atas usaha Tuanku Hasyim yang gigih dan ulet beliau dapat membendung serangan Belanda dari darat selama kurang lebih lima belas tahun.

Menjadi Panglima Besar Aceh

Pada tahun 1870 timbul kegoncangan dalam pemerintahan Aceh. Sultan Alaidin Ibrahim Syah meninggal dunia, sedang pengganti baginda belum ada yang dapat bertanggung jawab atas kelangsungan pemerintahan, Begitu juga pihak Belanda telah siap untuk menyerang Kesultanan Aceh. Mereka hanya menanti kesempatan yang baik, Mereka telah siap menanti perintah dari atasannya.

Untuk menanggulangi kekalutan ini tampillah tokoh-tokoh politik, orang-orang besar, Ulebalang dan para ulama. Mereka mengadakan musyawarah untuk mengangkat pengganti Sultan. Hasil musyawarah secara bulat menunjuk Tuanku Hasyim Bangta Muda sebagai pengganti Sultan, tetapi Tuanku Hasyim menolak dan tidak bersedia, dengan alasan ia tidak tepat, sebab pengangkatan Sultan sudah berselang dua, yakni ayah dan kakek dari Tuanku Hasyim, Tuanku Abdul Kadir dan Tuanku Raja Cut Zainal tidak menjadi Sultan. Hal ini kurang sesuai dengan adat dan peraturan, Untuk ini ia menunjuk Mahmud Syah yang masih kecil untuk menjadi Sultan. Beliau ini putera Sultan Alaidin Sulaiman Ali Iskandar.

Para ulama beserta pembesar kerajaan sekali lagi mengadakan musyawarah dan dengan suara bulat mendesak agar Tuanku Hasyim bersedia menjadi Sultan, dengan alasan bahwa negara dalam keadaan bahaya dan musyawarah sangat mengharapkan seorang kuat seperti Tuanku Hasyim, tetapi Tuanku Hasyim tetap pada pendiriannya, ia menolak jabatan Sultan. Dan pendiriannya yang kuat atas dasar tidak rela mengubah garis hukum adat, bahwa yang sebenarnya berhak menjadi Sultan adalah Alaidin Mahmud Syah, Kalau alasan negara dalam keadaan bahaya, ia lebih senang turun ke lapangan untuk menghadapi musuh dari pada duduk bersila di atas tahta kerajaan hanya untuk memerintah. Karena penolakan ini akhirnya musyawarah memutuskan untuk mengangkat Mahmud Syah menjadi Sultan, biarpun dalam keadaan lemah, guna mempertanggung-jawabkan tugas Negara dan kelangsungan pemerintahan Aceh.

REPORT THIS AD

Meskipun secara resmi Tuanku Hasyim menolak diangkat menjadi Sultan, tetapi secara praktis, ia bertanggung jawab dan melaksanakan tugas-tugas kesultanan demi kepentingan negara, bangsa dan agama.

Pada waktu Sultan baru diangkat kekuatan-kekuatan yang ada di Aceh ada tiga golongan besar.

Golongan keturunan Arab, jumlahnya sedikit, mereka termasuk golongan yang intelek, persatuannya kokoh. Golongan ini lebih memilih berperang dengan Belanda.

Golongan penduduk asli, jumlahnya banyak. Mereka lebih dekat kepada Sultan, tetapi persatuan kurang kokoh. Di dalamnya tergabung Ulebalang-Ulebalang yang ternama, tetapi mereka ini nampaknya sangat lemah dan bersedia bekerja sama dengan Belanda, oleh sebab itu Belanda mencoba mengadakan kontak dengan golongan ini.

Golongan yang mempunyai pendirian keras, yang tidak dapat diajak berdamai, jumlah terbesar. Mereka terdiri dari orang-orang kuat dan para ulama. Golongan inilah yang paling gigih menentang penjajahan Belanda.

Golongan yang pertama dipimpin oleh Sayid Abdurachman Azzahir, sedang golongan yang ketiga dipimpin oleh Tuanku Hasyim, Tuanku Hasyim adalah tokoh yang kuat dan taat pada agama. Di samping itu atas pengaruh Tuanku Hasyim banyak pula golongan Ulebalang yang taat pada agama. Mereka ada dipihak Tuanku Hasyim. Para Ulebalang yang mendukung Tuanku Hasyim antara lain: Panglima Polim Ibrahim Muda Kuala, Teuku Nyak Raya Imeuem Leuengbata atau Panglima Keraton. Para ulama yang mendukung perjuangan Tuanku Hasyim ialah Tengku Cik di Kutakarang Syekh Abbas, Tengku Cik di Tiro Muhamad Saman dan lain-Iainnya.

Demikianlah Tuanku Hasyim mendapat dukungan sepenuhnya dari kalangan orang-orang kuat, Ulebalang, para ulama dan kalangan rakyat banyak. Semua lapisan dan golongan menyerahkan kepercayaan pada Tuanku Hasyim.

Melihat peranan Tuanku Hasyim yang sangat penting dalam menjalankan pemerintahan, maka para cerdik pandai, Ulebalang dan ulama merasa perlu mengukuhkan kedudukannya. mengingat umur Sultan yang masih terlalu muda, boleh dikatakan hanya seperti boneka, yang menjalankan roda pemerintahan adalah Tuanku Hasyim. Maka oleh sebab itu dengan keputusan para ulama, disahkan oleh tiga Imam besar dan Panglima Tiga Sagi, yaitu menteri besar Wazirul A’ zan Panglima Polim Seri Muda Perkasa, Menteri Besar Wazirul Ghaza dan Menteri besar Qhadhi Malikul Alam Seri Setia Awadim Syiah Ulama, beserta Hulubalang empat dan Hulubalang delapan. Upacara pengesahan ini bertempat di Balairung Darud Dunya di hadapan Sultan. Sejak itu Tuanku Hasyim diangkat menjadi Panglima Tertinggi kerajaan Aceh. Kemudian kerajaan menyerahkan semua perlengkapan, urusan luar dan dalam negeri, mengatur urusan kerajaan, penasehat, urusan peperangan, urusan pertahanan dan keamanan, dan urusan kehakiman kepada Tuanku Hasyim.

Langkah pertama yang ditempuh Tuanku Hasyim setelah diangkat menjadi Panglima Tertinggi kerajaan Aceh, Ialah menghimpun seluruh kekuatan dan mengumpulkan segala perlengkapan perang. Ia memerintahkan kepada semua Panglima Perang dan Ulebalang untuk bersiap-siap menghadapi Belanda. Hal ini disebabkan karena rakyat Aceh merasa cemas melihat gerak-gerik tentera Belanda yang terus menerus mengadakan tekanan. Untuk menghadapi hal ini Tuank Hasyim telah memasukkan alat perlengkapan perang ke Aceh Besar. Kemudian untuk memberikan jawaban atas tantangan Belanda, ia mengadakan musyawarah dengan Panglima Tiga Sagi dan Ulebalang semuanya serta segenap alim ulama. Selanjutnya sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang mengumumkan perang terhadap Belanda dan dengan tegas menolak kedaulatan Belanda atas Aceh. Kemudian, melalui wakilnya Tengku Said Abdullah untuk menyampaikan kepada seluruh rakyat Aceh agar supaya bersiap-siap menghadapi serangan Belanda.

Semua usaha yang dijalankan oleh Belanda tidak membawa hasil, karena pihak Aceh kelihatan makin memperkuat dan menyusun kekuatan tempurnya. Maka pada tanggal 22 Maret 1873 Belanda melabuhkan kapal perangnya yang bernama, Citadel Van Antwerpen di Meuraxa yang jauhnya dari benteng Aceh sehingga tidak dapat dicapai oleh tembakan meriam.

Posting Komentar untuk "Sejarah Aceh - Lembaga Wali Nanggroe"