Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sejarah Aceh - Kisah Perang Jepang Langsa dan Kuala Simpang Membara

 

Kisah Perang Jepang Langsa dan Kuala Simpang Membara

“Jangankan tentara Sekutu, tentara iblis pun boleh datang ke Aceh. Rakyat Aceh sudah siap berperang dengan musuh mana pun,” kata Teuku Nyak Arief kepada Mayor Omura.

Pada 22 Desember 1945, barisan laskar perjuangan rakyat Aceh bersama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Kota Langsa, melakukan latihan perang di dalam kota. Pada saat yang sama tentara Jepang akan melakukan konvoi untuk kembali ke Medan.

Tapi ternyata latihan perang dan tembak menembak dalam kota itu hanya kamuflase semata. Ketika sampai di dekat tangsi militer Jepang, serangan mendadak dilakukan. Tentara Jepang kaget dan mencoba melakukan perlawanan, tapi gagal. Pihak Jepang meminta gencatan senjata.

Ternyata serangan itu memang sudah direncanakan dengan baik. TKR dan laskar perjuang rakyat di Langsa tidak ingin Jepang membawa persenjataannya ke Medan. Sebelum tentara Jepang meninggalkan Aceh, senjata mereka harus dilucuti. Dan ternyata kamuflase itu berhasil menundukkan Jepang.

Dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan yang ditulis Teuku Alibasjah Talsya diungkapkan, ketika pihak Jepang meminta perundingan, Mayor Bachtiar selaku komandan yang merencanakan penyerbuan itu meminta Jepang meninggalkan senjata di Aceh kalau ingin selamat.

Pemerintah Jepang di Kota Langsa menyetujuinya, mereka menyerahkan 300 pucuk senjata beserta amunisinya. Dari jumlah itu 200 pucuk diserahkan untuk memperkuat TKR, sisanya 100 pucuk untuk berbagai laskar perjuangan rakyat.

Penyerahan 300 pucuk senjata itu juga sebagai komitmen dan jaminan bahwa tentara Jepang tidak akan diserang selama konvoi untuk kembali ke Medan. Sampai di Medan, peristiwa itu dilaporkan kepada Sekutu, pasukan Jepang itu diperintahkan untuk kembali ke Aceh, mengambil balik senjata-senjata tersebut.

Pada hari yang sama delegasi Jepang dari Medan tiba di Banda Aceh. Delegasi tersebut dipimpin oleh Mayor Omura, bekas pendiri dan Komandan Resiman Gyugun di Aceh. Ia datang ke Banda Aceh bersama Gubernur Sumatera yang juga orang Aceh, MR Teuku Muhammad Hasan dengan pesawat terbang.

Setibanya di lapangan Lhoknga, Aceh Besar, bekas pangkalan militer Jepang terkuat di wilayah barat Indonesia yang telah dikuasai rakyat Aceh, Mayor Omura menjelaskan bahwa mereka didesak oleh Sekutu untuk mengambil kembali senjata-senjata yang telah dikuasi rakyat Aceh. Kerana di semua daerah lain di Indonesia senjata Jepang dilucuti oleh Sekutu, kecuali di Aceh.

Mendengar kata-kata Mayor Omura tersebut, Residen Aceh Teuku Nyak Arief dengan nada keras berkata. “Jangankan tentara Sekutu, tentara iblis pun boleh datang ke Aceh, namun senjata-senjata itu tidak akan kami berikan. Rakyat Aceh sudah siap berperang dengan musuh mana pun,” tegasnya.

Mayor Omura kemudian kembali ke Medan, dan misinya untuk meminta kembali senjata-senjata Jepang yang telah dilucuti oleh rakyat Aceh di berbagai daerah gagal total. Akibat kegagalan tersebut Sekutu kemudian memerintahkan dua batalyon pasukan Jepang untuk kembali ke Aceh. Pasukan ini merupakan gabungan antara pasukan Jepang yang pernah bertugas di Aceh dengan pasukan Jepang dari Tebing Tinggi. Mereka dipimpin oleh Mayor Jendral Sawamura.

Pada 23 Desember 1945, tentara Jepang yang akan diberangkatkan kembali ke Aceh ini berkumpul di Pangkalan Brandan. Tentara Jepang melintasi perbatasan Sumetera Timur dengan Aceh pada tengah malam dengan barisan panser. Mereka dihadang oleh pasukan TKR di kawasan sungai Liput beberapa kilometer sebelum masuk Kota Kuala Simpang. Pasukan Jepang ditembaki dengan senapang dan dilempari granat oleh pasukan perjuangan rakyat yang dipimpin T Sulung. Dalam pertempuran yang tak seimbang itu T Sulung dan beberapa kawannya tewas setelah berperang selama dua jam.

Dari sana pasukan Sawamura masuk ke Kota Kuala Simpang. Mereka menduduki tempat-tempat strategis. Kota Kuala Simpang yang sepi setelah ditinggalkan penduduk tersebut berhasil dikuasai Jepang. Sebagai tentara Jepang bertahan di Kuala Simpang, sebagian lagi bergerak menuju Langsa.

Pada pukul 02.00 dini hari, kontak tembak kembali terjadi di kawasan Meudang Ara, antara Kuala Simpang dan Langsa. Barisan perjuangan rakyat Aceh di sana dipimpin oleh Mayor Bachtiar dan Letnan II Abusamah. Mereka memberi perlawanan untuk menghambat dan memperlambat gerak pasukan Jepang yang ingin memasuki Kota Langsa.

Dalam peperangan tersebut Mayor Bachtiar tertembak di bagian rusuk, ia kemudian dilarikan ke rumah sakit di Langsa untuk perawatan. Lima pejuang dari TKR tewas dalam pertempuarn tersebut, mereka adalah: Abdullah Budiman, Abdullah Husen, Ahmad Latief, Ali Zaini, dan Usman. Korban tewas lainnya adalah Raja Ahmad dari Laskar Mujahidin bersama empat orang pejuang yang tidak diketahui namanya.

Pasukan Jepang tiba di Langsa pada 24 Desember 1945, mereka memasuki Kota Langsa dengan formasi menyerang. Tembak menembak terjadi di pinggiran Kota Langsa. Informasi kembalinya Jepang tersebut cepat menyebar ke luar Langsa. Hari itu juga Laskar Mujahidin bersama TKR dan Ksatria Pesindo dari Bireuen dikerahkan ke Langsa untuk menghalau tentara Jepang.

Ternyata selain memerintahkan dua batalyon tentara Jepang kembali ke Aceh. Pimpinan Sekutu di Medan juga mengerahkan kapal perang ke perairan Aceh. Pada pukul 09.00 malam di perairan Sigli tampak cahaya lampu kapal dari kejauhan. Penduduk dari berbagai laskar perjuangan menuju pantai, mempersiapkan dalam posisi siap perang. Ketika kapal tersebut mendekati garis pantai, ditembaki dari darat oleh pasukan TKR dan barisan pejuang rakyat. Kapal perang milik Sekutu itu pun kemudian kembali ke laut lepas.

Pasukan Jepang yang sudah mendekati Kota Langsa kemudian terlibat baku tembak di kawasan Upak dan Buket Meutuah. Sementara di Kota Langsa bala bantuan terus berdatangan untuk memperkuat barisan pertahanan. Tambahan pasukan dan laskar perjuangan datang dari Idi, Lhoksukon dan Bireuen. Sementara di Upak pertempuran terus terjadi, pasukan pejuang yang dipimpin oleh Kapten Isyrin Nurdin berhasil memperlambat pergerakan Jepang.

Pertempuran di Buket Meutuah antara Kota Langsa dan Kuala Simpang, berlangsung selama tiga jam lebih. Letnan Petua Husen bersama dua temannya Sandang dan Razali gugur. Selajutnya ketiga pertempuran berlanjut di Buket Puteh, tiga orang pejuang Aceh gugur, sementara dari pihak Jepang enam orang tewas. Semantara korban luka-luka dari kedua belah pihak sangat banyak, para korban dilarikan masing-masing pihak ke pos perawatan masing-masing.

Ketika perang reda, para pejuang Aceh berkumpul di kebun-kebun karet sepanjang jalan Langsa - Kuala Simpang. Di sana mereka istirahat dan makan malam pada dapur-dapur umum yang telah disiapkan secara darurat.

Mengetahui masuknya kembali Jepang tersebut, Residen Aceh Teuku Nyak Arief berangkat dari Banda Aceh ke Kuala Simpang untuk menemui Mayor Jendral Sawamura. Perang yang sudah jatuh banyak korban di kedua belah pihak harus diredakan.

Ketika sampai di Kota Langsa, Teuku Nyak Arief melakukan konsolidasi dengan para pimpinan pejuang dari berbagai laskar. Ia juga melakukan inspeksi pasukan TKR dan mengelorakan semangat untuk berperang mempertahankan Kota Langsa. Dalam kunjungan tersebut Teuku Nyak Arief didampingi oleh Kepala Staf TKR Divsi V Mayor TA Hamid Azwar.

Pada 26 Desember 1945, pertempuran kembali terjadi di Langsa. Tentara Jepang yang sudah kelelahan menunjukkan gelagat untuk mundur kembali ke Kuala Simpang. Upaya Sekutu untuk mengambil kembali senjata yang dikuasi rakyat Aceh gagal.

Pada hari yang sama, Gubernur Sumatera MR Teuku Muhammad Hasan bersama Wali Kota Medan MR Muhammad Jusuf, melakukan perundingan dengan Panglima Tentara Sekutu untuk Sumatera, Mayor Jendral Chambers dan Brigadir Jendral TED Kelly dari Inggris. Mereka berjanji tidak akan menganggu kemerdekaan Republik Indonesia.

Usai perundingan, pada 27 Desember 1945 MR Teuku Muhammad Hasan dari Medan menuju Kuala Simpang. Sementara pada saat yang sama puluhan ribu pejuang dari berbagai daerah sudah berada di Langsa. Mereka siap-siap untuk bergerak menggempur Jepang di Kuala Simpang. Namun, perang dapat dihindari setelah diadakan perundingan, tentara Jepang kemudian kembali lagi ke Medan.

Posting Komentar untuk "Sejarah Aceh - Kisah Perang Jepang Langsa dan Kuala Simpang Membara"