Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Kisah penangkapan Sultan diKutaraja

Kisah penangkapan Sultan diKutaraja

Kisah penangkapan Sultan diKutaraja


Rabu tanggal 21 Agustus 1907 Vaan daalen sibuk dengan pelaksanaan rencana penangkapan Sultan aceh Tuanku Muhammad dausyah yang telah berhasil di tawan pada tahun 1903 di Blang malu,Pidie oleh Belanda.

Melalui sebuah jebakkan yang sudah direncanakan,Sultan tidak akan merasa curiga sedikit pun.Secepatnya Rijckmans menyanggup,terlaksananya perintah ini, Van Daalen memerintahkan asisten Belanda untuk Banda aceh L JF Richjkmans.pembesar sipil bawahan ini diperintahkan untuk mengundang sultan pagi harinya kekantor asisten residen. 

Perintah itu diingini oleh van Daalen agar dijalankan sedemikian hati-hatinya sehingga kepada bawahan supaya menyampaikan instruksi kepada komanda meliter kota kuta raja Letnan Kolonel R G Doorman agar menyiapkan dua brigade morsese yang dipimpin oleh seorang Letnan dan berbaris menunggu di depan kantor komandan.

Van Daalen berbohong dengan mengatakan bahwa atase militer Jepang Mayor Inouye akan di perkenalkan kepada korp morsase.Doorman pun membawa pasukannya ke kantor asisten residen Rijckmans. Sambil mengepung kantor itu diperintahkannya letnanJ.E. Scheffers supaya masuk dengan sebagian pasukan dengan pedang terhunus menyerbu ke kamar langsung ke dekat meja dimana asisten residen duduk dan sedang bercakap-cakap di depannya sultan Aceh, Tuanku Muhammad Dawot. 

Pembantunya Scheffers telah menyerahkan surat, tangkap dan diperintahkannya supaya sultan jangan melawan. Sultan terkejut karena sama sekali tidak menyangka akan terjadi perbuatan sekhianat dan sepengecut itu atas dirinya Setelah dibacakan surat tangkapan atas dirinya, dia pun berteriak keras: "Saya tidak bersalah, tidak mau ditangkap Sultan melawan ketika hendak ditangkap tapi Scheffers segera mengancam dan menyuruh supaya sultan meletakkan rencong ke atas meja. 

Dia dikepung dan ditodong dengan bajonet terhunus lalu didorong terus keluar, di tengah tengah teriakan sultan yang terus mengatakan tidak mau ikut.Doorman mengancam akan menembak sultan jika tidak menurut dan melawan terus menerus.dalam keadaan diancam sultan berhasil dinaikan kedalam kereta api.

lalu berangkat menuju ke pelabuhan ole lheu.Sultan didudukan di dalam coupe kelas satu ,tapi beliau menolak,karena beliau hanya seorang kecil yang bukan lagi Sultan,dan beliau memilih duduk dikelas ekonomi. setelah kereta-api tiba di pelabuhan,sultan dipaksa masuk bargas untuk naik ke kapal gubernemen "Java". 

Setiba di sana dia menolak untuk masuk ke kamar yang ditunjuk padanya sebelum keluarganya naik ke kapal. Doorman menyatakan bahwa keluarganya dan rombongannya akan turut serta menemani sultan.

Pukul 12 istri bersama rombongan serta barang barang diangkut dari kediaman sultan.dan kapal pun berlayar menuju Batavia.di dalam kapal tersebut sudah ada Teuku Johan dan Teuku Husin dan empat orang anak nya.mareka mengalami nasib seperti sultan

Tiba di Jakarta sultan dan rombongan nya tdk di perlakukan secara terhormat sebagai Sultan,tapi diperlakukan sebagai seorang tahanan.

Pada tanggal 30 agustus Sultan di periksa (diperbal) oleh residen Betawi J Hofland.Didepan asisten residen L.J.F Rickjmans.Yang ikut serta membawa Sultan ke Batavia bersama sekretaris H Van santwijk.dalam pemeriksaan itu ternyata Van daalen telah menyusun alas an alas an kenapa sultan harus di internirkan dan harus di singkirkan dari kutaraja.

Van Daalen menuduh Sultan melakukan kegiatan subversive.Sultan dituduh sering bertemu dengan panglimanya untuk meneruskan perjuangan anti Belanda yaitu bertemu dengan keuchik seuman dan Panglima usoih.

Dikatakan oleh Van daalen Sultan juga menghimpun kekuatan dengan mengadakan pertemuan di Kuala aceh di dekat rumah kepala kampong kuala keuchik Syeh. menurut tuduhan tersebut di bulan Sa'ban, ketika diadakan kenduri, sultan mengadakan perundingan di makam Teungku Musapi di Kuala Musapi. 

Ketika itu hadir Teuku Djohan, Teuku Meurah Lamgapang, Teuku Sjech Tjut Putu, Teuku Berahim Tibang, Teuku Daud Silang.Juga hadir isteri sultan,Potjut Di Murong,Panglima Ma Asan dan Nya' Abaih.

Selanjut nyan malam berikut nya Sultan bertemu dengan seorang saudagar cina dikuta Bum bongki,tempat dimana sultan juga bertemu dengan Keuchik seuman dan Panglima usoih.ketika itu lah Sultan memerintahkan Keuchik seuman dan pang usoih berserta pejuang pejuang lainnya untuk melakukan penyerangan terhadap Belanda.disebutkan juga bahwa Sultan telah memberikan Uang sebesar 270 dollar melalui perantara pang Asan dan si Mega kali.

Didalam pemeriksaan perbal tersebut,sultan membantah semua tuduhan dari fihak Belanda.Sultan hanya membenarkan bahwa beliau pernah ke Kuala untuk berburu.tuduhan selanjut nya didakwakan bahwa Sultan telah memungut uang dana sabil dengan perantara Teungku Mat Said dan Bung cala. 

Tuduhan lainnya lagi mengatakan bahwa pada suatu ketika ditahun 1906, tidak berapa lama sehabis bulan puasa sultan telah menyatakan kepada Ngah Arsjad, Keutjhi' Tjot Lamgua ucapan ucapan yang membusuk-busukkan van Daalen. Antara lain menurut keterangan itu, sultan telah mengatakan bahwa van Daalen adalah seorang penjahat,karena telah banyak membunuh anak anak dan perempuan di Gayo ketika ia menakluk kan gayo

Di Pidie dan di Peusangan, demikian menurut tuduhan itu telah dikatakan oleh sultan, bahwa van Daalen telah menindas. Dikatakannya bahwa van Daalen pasti akan mengalami kesulitan. Karena van .Daalen terus membunuh kaum Muslimin maka dia kelak akan dicerca oleh dunia luar berhubung karena dunia luar bakal mengetahuinya. 

Tanggal 7 September sultan mendapat kesempatan untukmengirimkan "memorie Van verdediging" kepada gubernur jenderal van Heutsz, yaitu suatu pembelaan yang rupanya ada juga dibenarkan menurut ketentuan undang-undang kolonial Belanda, tapi pada perakteknya hanya sekedar proforma belaka. 

Sultan telah mempergunakan kesempatan ini, tapi berhubungan karena dipakainya seorang pokrol Belanda untuk menyusun memorie pembelaan tersebut maka lebih banyaklah dikemukakan bagian bagian yang tujuannya merupakan kepentingan pribadi.biaya pembelaan yang sultan keluarkan sebesar tiga ratus ribu gulden dan sultan bayar dengan emas hanya sia sia.

Belanda tidak menghiraukan pembelaan dari sultan.Harian Bataviaasch Niewusblad di Jakarta yang mencoba menempatkan tajuk rencana yang berupa kecaman dalam penerbitan tanggal 20 Januari 1908, telah membanding peristiwa Tuanku Muhammad Dawot dengan peristiwa perkara Dreyfuss yang pernah terjadi di Perancis, peristiwa seorang perwira yang harus dijahanamkan(walau pun dia tidak bersalah) demi Kepentingan prestise tokoh-tokoh atasan.

Harian Belanda itu mengupas adanya kekuasaan istimewa bagi seorang gubernur jenderal "Hindia Belanda" yang berhak menangkap dan menahan seseorang menurut pasal 47 "regeeringsreglement", walau pun belum terdapat tindak pidana dilakukannya. 

Kekuasaan gubernur jenderal dimaksud demikian luasnya, karena asal saja dianggapnya membahayakan keselamatan umum dia boleh mengasingkan seseorang. 

Terhadap peristiwa Sultan Muhammad Dawot, tajuk rencana harian "Bataviaasch Hieuwsblad" tidak melihat adanya bahaya itu, tapi dikatakannya bahwa

"er schijn alle reden te zijn om te nemen dat de leer "macht boven recht" wederom gehuldigd is in het drama, dat wij onbewogen in ons midden het eerste bedrijf een einde neemt. Dat drama heet: de verbanning van den pretendent sultan van Atjeh, Tuanku Muhammad Dawot

atjehgallerynaar Amboina." 

("Nampaknya "kekuasaan di atas keadilan" kembali merupakan pedoman dalam drama yang telah berlangsung secara tak kentara di tengah-tengah kita, yang babak pertamanya sedang berakhir. Drama itu ialah terbuangnya sultan Aceh ke Ambon). 

Setelah penulis tajuk rencana dimaksud mengingatkan tulisan berupa kecaman dari Wekker yang mengatakan bahwa di Aceh hanya berlaku kesewenang wenangan,lalu si penulis pun menyingkap keburukan penangkapan tersebut. 

Dikemukakannya bahwa menurut peraturan bahwa orang yang hendak diasingkan harus diberi kesempatan membela diri sebelum ditangkap, tapi kejadian dengan sultan tidaklah demikian.kepada sultan tdk di tunjukkan surat penagkapan.

Sultan telah ditipu dan di tangkap semena mena dengan todongan bayonet naik ke kapal unt dibawa ke Batavia. Setelah penulis tajuk rencana dimaksud mengingatkan tulisan berupa kecaman dari Wekker yang mengatakan bahwa di Aceh hanya berlaku kesewenang wenangan,lalu si penulis pun menyingkap keburukan penangkapan tersebut. 

Dikemukakannya bahwa menurut peraturan bahwa orang yang hendak diasingkan harus diberi kesempatan membela diri sebelum ditangkap, tapi kejadiandengan sultan tidaklah demikian.Sehubungan dengan tuduhan-tuduhan yang dilancarkan, sultan menangkis yang sasarannya ditujukan kepada van Daalen dan Tuanku Mahmud.Sultan memungkiri bahwa dia pernah mengadakan pertemuan dengan Keutjhi' Seuman dan Pang Usoih. 

Keterangan dari Nya Abaih yang mengatakan bahwa dia mengetahui pertemuan itu ternyata merupakan keterangan yang dibikin-bikin hasil pemerasan van Daaen. 

Nja' Abaih mengatakan bahwa dia takut karena dipukul kalau tidak membuat keterangan. Sultan mungkir bahwa dia baik langsung maupun tidak langsung pernah mengadakan hubungan dengan siapa pun juga yang menyebabkan terjadinya penyerangan Keutjhi' Seuman dan pasukannya terhadap Kutaraja tanggal 6 Maret 1907. 

Sultan mengatakan bahwa Sultan telah menyerah kepada Belanda menurutnya karena menginsafi bahwa pribadinya yang tidak berarti itu tidaklah memungkinkan Beliau akan bisa menjalankan peranan sebagai pahlawan rakyat.

Selama di Kutaraja sultan berselisih dengan Habib Badai, yang kawin dengan seorang janda Teuku Husin, pengikut Teuku Umar Teuku Husin pernah berhutang uang tunai kepada sultan sebanyak $ 1000. Sesudah Teuku Husin meninggal dunia, hutang itu dibayar oleh jandanya dengan barang-barang perhiasan. 

Tapi ketika Habib Badai mengawini janda Husin, Habib Badai mempengaruhi isterinya supaya meminta barang-barang perhiasan itu kembali dari sultan Menurut sultan Tuanku Mahmudlah yang menjadi gara gar dan mencelakakannya. 

Seorang puteri Tuanku Mahmud dikawini oleh sultan, kemudian diceraikannya. Perceraian ini tidak menyenangkan Tuanku Mahmud karena memalukannya. Surat Tuanku Mahmud kepada van Daalen, dengan surat bertanggal 7 Pebruari 1907, van Daalen memaksa sultan supaya merujuki jandanya. 

Sultan tidak mau,sebab tidak bisa dirujuki lagi,kecuali, katanya,jika pendapat para ulama membenarkan perujukan sedemikian.Karena sultan berani menentang putusan van Daalen, itulah sebabnya van Daalen benci kepada sultan.

Lalu setiap jalan digunakan oleh van Daalen untuk menyulitkan sultan, jalan mana tidak susah diperoleh bagi seorang pembesar yang berkuasa sebagai van Daalen,Tuanku Mahmud mendapat kabar dari gubernur bahwa sultan ada memperoleh tanah seluas lima bahu dari mayor van der Maaten. 

Tanah itu diolah oleh sultan dan untuk kepentingan ini sudah mengeluarkan ongkos sebanyak $ 2000.Tiba-tiba Potjut Meurah (isteri Tuanku Mahmud) mendakwa bahwa tanah itu miliknya, dan wakil sultan yang menyelenggarakan tanah itu dituntutnya supaya keluar. 

Terhadap sengketa ini van Daalen campur tangan,yaitu dipengaruhinya sultan supaya berdamai dengan Potjut Meurah. 

Kepada sultan dibayar ganti kerugian

sebanyak $ 900,- tapi karena jumlah itu amat sedikit, sultan tidak bersedia berdamai. Akibat van Daalen bertambah benci sultan.atjehgallery

Persengketaan lain dengan Potjut Meurah, ialah mengenain tanah yang telah diberikan oleh Teuku Husin di Geudong uleebalang Sigli,terletak di Ptukan Pidie. 

Tanah ini dapat dimiliki oleh Potjut Meurah dengan bantuan van Daalen. Itulah antara lain beberapa fakta di mana ternyata adanya gencatan van Daalen terhadap pribadi sultan ,pembelaan sultan fihak Belanda baik di Jakarta maupun di Den Hague tidak mengubris tentang nasib Sultan.

Menurut cerita Dr. Snouck Hurgronje menjelang Tuanku Muhammad Dawot menyerah lebih dulu telah ditanyakan oleh sultan ini kepada mayor van der Maaten,pembesar militer yang bertugas di Sigli,apakah Belanda akan membuangnya keluar daerah Aceh bila umpamanya dia menyerah,sebab kalau toh dia akan terbuang keluar Aceh, dia akan memilih lebih baik tidak menyerah. 

Sepanjang adat adalah hina rasanya kalau sampai terbuang seperti itu. Snouck mengatakan bahwa mayor van der Maaten telah menanyakan kepada gubernur vanHeutsz telah berjanji bahwa sultan tidak akan dibuang,melainkan sebaliknya dia akan diberi uang bantuan tetap setiap bulan.

Menurut pendapat Dr. Snouck karena sudah adanya perjanjian maka fihak Belanda terikat dengan perjanjian tersebut.

Harian Inggeris Strait Times di Singapura kembali menumpahkan kejengkelannya kepada Belanda mengenai perang colonial di Aceh sehubungan dengan penangkapan secara pengecut atas diri Tuanku Muhammad Dawot, dalam penerbitannya bulan Agustus1907, antara lain:

“suasana di Aceh kembali menggelisahkan. Bekas sultan telah ditangkap dan dibawa ke Jakarta. Golongan yang bersahabat dari rakyat Aceh telah diperas dengan kerja paksa (rodi) dan mereka ditindas supaya memikul beban-beban berat untuk mengangkut barang-barang militer. Begitu pula mereka merasa berat terhadap penutupan pelabuhan yang tujuannya melemahkan perdagangan. Kini penguasa militer sedang berusaha menindas setiap maksud perlawanan”

Tanggal 5 September 1907,kubu Belanda di Seudu diserang lagi secara hebat oleh pihak pejuangAceh.Ini pun membuktikan bahwa kerugian van Daalen tentangTuanku Muhammad Dawot tidaklah pada tempatnya yang tepat.

Bahwa Tuanku Muhammad Dawot mempunyai' keinginan yang terus-terusan untuk melawan Belanda, tidak perlu didustakan. 

Tapi bahwa dengan dia saja baru ada perlawanan,tidaklah benar adanya. Meningkatnya penyerangan penyerangan gerilya sesudah dia dibawa ke Jakarta adalah buktinya.

Pada hari senin tanggal 6 february 1939 Sultan wafat sebagai tawanan BElanda dan di kebumikan di pemakaman Umum kemiri Rawamangun.setelah dibuang oleh Belanda sampai akhir hayat nya beliau tidak pernah menginjakkan kaki nya lagi di tanah leluhur nya,tanah indatu,tanah Sultan iskandar Muda bumi Seuramo mekkah.(adifa)foto sultan

Posting Komentar untuk "Kisah penangkapan Sultan diKutaraja"