Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sejarah Aceh - Kesultanan samudra pasai

Kesultanan samudra pasai

Sultanah Malikah Nahrasyiyah adalah puteri Sultan Zainal Abidin bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Malik Ash-Shahih, wafat pada 831 H/ 1428 M. Dikenal juga dengan sebutan Putri Nahrisyah merupakan Ratu yang memerintah Kerajaan Samudera Pasai dalam rentang waktu (1406-1428 Masehi). Ia merupakan Sultanah perempuan pertama di Asia Tenggara memerintah dengan arif bijaksana dengan sifat keibuan serta kasih sayang. Pada masa pemerintahan Sultanah Malikah Nahrasyiyah penyebaran agama Islam menjadi semakin pesat, Kesultanan Samudera Pasai sendiri mencapai puncak masa kejayaan pada masa pemerintahan beliau.

Samudera Pasai adalah kerajaan kembar yang memiliki satu Raja. Induknya berupa sebuah Kesultanan dengan kerajaan bawahan. Beberapa orang di masa sekarang saling menyalahkan perbedaan penyebutan Pasai dan Pase, padahal pada masa itu ada beberapa bahasa yang digunakan pada kerajaan tersebut. Pasai bahasa Persia dan Arab, Pase bahasa Aceh. Kesalahan juga terjadi dengan menyebutkan Samudera berasal dari nama “semut dara” hal ini dibantah oleh penjaga makam Sultanah Malikah Nahrasyiyah yang menyebutkan bahwa tidak mungkin sebuah kerajaan terkuat di Asia Tenggara pada masanya mengambil nama dari semut. Salah mengartikan membuat sejarah menjadi kecil dan timbul pengerdilan sejarah. Hal ini disebabkan oleh para pemimpin sekarang (di Aceh) tidak peduli bahkan mengabaikan penulisan sejarah Samudera Pasai.

Sultanah Malikah Nahrasyiyah

Ada banyak penulisan tentang kerajaan Samudera Pasai salah satunya seorang penjelajah Arab, ibnu Bathutah yang pernah mencatat nama kerajaan ini dengan nama “sumutrah” yang menjadi asal-usul nama Pulau Sumatera.

Silsilah Para Raja Samudera Pasai

Makam Sultanah Malikah Nahrasyiyah terletak di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara sekitar 18 Kilometer sebelah Timur Kota Lhokseumawe. Berada di kompleks II (Kuta Karang) tidak jauh dari makam Sultan Malikussaleh (Pendiri Kerajaan Samudera Pasai) yang terletak pada kompleks I makam-makam Raja-Raja Samudera Pasai.

Penjaga Makam Sultanah Malikah Nahrasyiyah juga membantah bahwa Kerajaan Samudera Pasai pernah diserang oleh Kerajaan Majapahit, apa lagi sampai mengalami kekalahan hal ini disebabkan tidak ditemukan adanya peninggalan Kerajaan Majapahit baik berupa mata uang. Mengingat Sultan Malikussaleh sebagaimana tertulis dalam literature Arab bergelar “Al-Fatih” yang memiliki angkatan laut terkuat di Asia Tenggara. Kekuatan maritim Samudera Pasai pada masanya setara menguasai lautan dan diseumpanakan dengan panglima laut Turki, Khairuddin Barbarossa. Karena itu tidak mungkin Kerajaan Majapahit menyerang Kerajaan Samudera Pasai mengingat Belanda sendiri ketika menyerang Kesultanan Aceh dengan mengandeng banyak sekutu.

Beliau juga menyesalkan bahwa cerita yang berkembang di masyarakat Aceh berupa hikayat yang menyebutkan bahwa Sultan Malikussaleh anak dari Meurah Silu atau Meurah Gajah dengan Putroe Puteh. Mengapa pada nisan beliau tertulis “al hasibul an nasib” Keturunan yang terhormat dan terkenal. Sebagaimana para Sultan yang bergelar al-fatih yang merupakan gelar terhormat dalam sejarah Islam yang tidak bisa diberikan kepada sembarangan orang, sebagaimana Shalahuddin Al-fatih dan Muhammad Al-fatih. Sebagaimana Rasulullah menyebutkan, “mulia seseorang karena agama, marwah karena kehormatan dan nasab dari garis keturunan.”

Terjadi banyak kontradiksi dalam penulisan sejarah sumutrah (sumatera) akibat terlalu banyak pengaruh penjajah Eropa, pengolahan cerita oleh Barat yang seolah mampu menceritakan semua kejadian pada zaman itu, orang-orang kita silau dengan gelar akademik yang mereka bawa seperti Professor. Kebanyakan peneliti dari Indonesia (Aceh khususnya) sendiri tidak memahami sejarah Samudera Pasai dan hanya membebek kepada orang-orang asing. Anehnya, mereka ketika berhadapan dengan orang-orang yang hidup disekitar makam dan memahami sejarah makam seperti dimana letak malah menjadi arogan dan tidak mau mendengar dengan alasan mereka tidak punya ijazah (gelar). Akibatnya sejarah menjadi semakin kacau.

Apakah mereka sebagai orang lapangan bercerita hanya berdasarkan hikayat belaka? Menurut penjaga makam Sultanah Nahrisyah ia bercerita bukan berdasarkan apa yang ia dengar belaka namun berdasarkan inskripsi yang tertulis pada makam yang tertulis dalam bahasa Arab.

Nisan Sultanah Malikah Nahrasyiyah diimpor pada permulaan abad IX Hijriah, didalam nisan tidak ada isi, jasad Sultanah Sultanah Malikah Nahrasyiyah sendiri dikubur disamping makam. Monumen ini merupakan hadiah dari sebuah Kesultanan di India Barat (Pakistan sekarang), sampai saat ini merupakan nisan terindah di Asia dengan pembanding sebuah Makam di India dan Asia Tenggah namun nisan-nisan tersebut disana telah rusak. Dengan arsitek yang memenuhi nisan dengan tulisan, untuk Asia Tenggara nisan ini merupakan satu-satunya makam dengan corak seperti ini.

Inskripsi makam tertulis dalam Bahasa Arab dengan terjemahan: “Inilah pembaringan yang bercahaya lagi bersih bagi ratu yang dipertuan agung, yang dirahmati lagi diampuni Nahrasyiyah yang digelar Ra-Bakhsya Khadiyu (Penguasa yang pemurah) binti Sultan yang berbahagia lagi syahid Zainal Abidin bin Sultan Ahmad bin Sultan Muhammad bin Al-Malik Ash-Shahih, semoga ke atasnya dan keatas mereka semua dilimpahkan rahmat dan keampunan. Ia meninggalkan negeri yang fana menuju sisi rahmat Allah pada tanggal hari senin 17 bulan Zulhijjah 831 dari Hijrah.”

Nisan Sultanah Malikah Nahrasyiyah sampai saat ini masih utuh dan tidak mengalami kerusakan sama sekali. Namun disayangkan nisan ayah beliau Sultan Zainal Abidin telah dirusak oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Penjaga makam Sultanah mengaku tidak tahu siapa yang merusaknya, kerusakan itu telah lama terjadi sebelum ia lahir. Dari bentuk kerusakan tersebut bukan karena alam. Ia menduga kerusakan ini adalah pengaruh bangsa Eropa Belanda yang gemar menghancurkan situs sejarah bangsa yang ditaklukkannya.

Menurut penelusuran kami, kompleks II (Keseluruhan ada XII Kompleks) di Kuta Karang warisan dari Kesultanan Samudera Pasai memiliki sejarah panjang. Ada sebuah dokumen terdapat pada buku Atjeh yang ditulis oleh H.C Zentgraff berpotret tempat ini diambil sekitar tahun 1937 keadaan makam Sultan Zainal Abidin terlihat memang sudah rusak.

Makam Makam Sultanah Malikah Nahrasyiyah (kiri) dan ayah beliau Zainal Abidin (kanan) kondisi tahun 1937

Makam Makam Sultanah Malikah Nahrasyiyah (kanan) dan ayah beliau Zainal Abidin (kiri) kondisi tahun 2017

Melalui kami, penjaga makam Sultanah Malikah Nahrasyiyah juga mengatakan bahwa pemerintah Aceh sama sekali tidak memperhatikan sejarah. Bahkan ia menambahkan, tolong direkam. TIDAK ADA SAMA SEKALI PERHATIAN!!! Mengapa? Selama ini mereka berkata peduli sejarah dan mengikuti jejak gemilang nenek moyang maka bukan berkata di kantor, seminar, forum. Tapi turun ke lapangan, telusuri apa yang telah dibuat oleh leluhur. Mereka (Para Leluhur) meninggalkan banyak pesan dan kesan dari inskripsi yang tertulis pada makam.

Seraya menceritakan tentang sejarah Kesultanan Samudera Pasai, penjaga makam juga menjelaskan sejarah Kesultanan Aceh Darussalam. Dalam kitab Bustanus as-salatin disebutkan bahwa Kandang Meuh (Nama kompleks pemakaman Kesultanan Aceh Darussalam) di Banda Aceh menyebutkan bahwa keureunda (Peti Jenazah) Sultan Aceh (Iskandar Muda) dilapisi emas, dan pada tahun 1976 (Masa Presiden Soeharto) dibuat proyek eskavasi untuk membuktikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, dan ternyata memang terbukti ada. Untuk menjaga bukti sejarah tersebut semua peninggalan tersebut dibawa ke Jakarta untuk “diamankan” dan sampai saat ini kita tidak pernah tahu dimana letaknya. Mereka benar-benar sudah “mangamankan” peninggalan tersebut, salah satunya akibat dari para petinggi Provinsi Aceh pada masa tersebut tidak menyimpan bukti kejadian tersebut maka rakyat Aceh tidak memiliki hak untuk menuntut kembali peninggalan tersebut untuk diletakkan di Museum Aceh.

Dua makam kuno Kerajaan Aceh yang dipotret Belanda sebelum tahun 1937

Terakhir pesan beliau, saat ini terjadi banyak manipulasi sejarah. Kenapa? Jika ingin membuat negeri maju maka harus “membesarkan” sejarah. Jika ingin mengecilkan sejarah masa lalu maka negeri akan menjadi “kerdil” dan malah turun tingkatnya. Ia menyesalkan para elit politik di Aceh malah sibuk dengan jabatan. Sebagaimana pepatah yang dikatakan orang tua-tua “kita bersekolah supaya jangan ditipu orang, dan kita mengaji supaya jangan menipu orang.” Yang terjadi saat ini semua sekolah, tanpa mengaji akhirnya kerjanya menipu orang lain.

Simak sebuah pilem dokumenter bertajuk : Ziarah ke makam Sultanah Malikah Nahrasyiyah

Posting Komentar untuk "Sejarah Aceh - Kesultanan samudra pasai"