Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sejarah Aceh - Marsose dari Minahasa pada saat Perang Aceh

 

Marsose dari Minahasa pada saat Perang Aceh

*Marechaussee van Minahasa Land in de Atjeh Oorlog*

Marsose dari Minahasa pada saat Perang Aceh.

Peperangan Belanda di Aceh berlangsung dalam rentang waktu yang lama.Dan menjadi suatu peristiwa yang sangat memalukan dan menyedihkan bagi orang Aceh sebab banyak orang aceh yang meninggal. Strategi peperangan hit and run yang dilakukan pasukan Aceh mengajarkan Belanda untuk membentuk unit pasukan khusus anti gerilya. Namanya Marchaussee (marsose).Pasukan ini bertugas menyisir seluruh hutan rimba raya yang ada di Aceh. Mereka terdiri dari orang Minahasa , Ambon dll dan dipimpin oleh sersan Belanda. 

Pemilihan orang Pribumi/Bumiputera dalam unit ini sengaja dilakukan untuk melacak jejak pasukan Aceh di dalam hutan. Pasukan ini dikenal bengis dan tidak menghormati hukum perang. Bahkan, pemimpin pasukan Aceh yang dikenal lihai dalam strategi peperangan sekelas Teuku Umar berhasil di BUNUH oleh TOU MINAHASA yang bernama JESAJAS PONGOH.Tahun 1898 hingga 1904 Jesajas Pongoh mengambil bagian dalam operasi militer di Aceh, dimana ia terlibat pada operasi di tanah Gayo dan Alas (Gajo en Alaslanden).Keberanian Jesajas Pongoh terlihat dalam penyerbuan benteng terkenal Tjot Saunoko.  Dengan klewang digigitnya, ia melompat ke dalam benteng sehingga mengejutkan orang Aceh di dalamnya.Dan membunuh Teuku Oemar.

Dengan beslit kerajaan tanggal 30 September 1903 ia dianugerahi Ridder Klas 4 Militaire Willems Orde untuk operasi militer di Aceh selama semester kedua tahun 1902

Tahun 1904, ia ikut dalam ekspedisi menyeberangi Tanah Gayo yang terkenal dalam sejarah militer Hindia-Belanda dibawah pimpinan Overste G.C.E.van Daalen. 

Gubernur Hindia Belanda yang berkedudukan di Aceh mengutus 10 brigade marchaussee masuk ke pedalaman hutan Bukit Barisan guna mencari sisa pasukan Aceh. 

Ekspedisi mencari pasukan Aceh ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Gotfried van Daalen dengan membawa 200 anggota, 12 perwira dan 450 narapidana kerja paksa, sejak 8 Februari 1904.Kolonel yang dipimpin oleh van Daalen bergerak dari Lhokseumawe di pantai utara Aceh. 

Bersama mereka turut serta ilmuwan seperti insinyur pertambangan, mantri Kebun Raya Buitenzorg (kini Kebun Raya Bogor), tim topografi, perwira kesehatan sekaligus sebagai fotografer HM Neeb.Letnan van Daalen membunuh penduduk dengan kejam selama ekspedisi tersebut dilakukan di pedalaman Gayo dan Alas. Ribuan laki-laki dan perempuan serta anak-anak diberondong. Lumbung padi yang dilalui semuanya dibakar. Aksi brutal van Daalen yang paling dikenal sepanjang masa adalah pembunuhan massal terhadap 1.773 laki-laki dan 1.149 perempuan di Kuta Reh pada 14 Juni 1904.

Ribuan warga Gayo dan Alas yang tewas di Kuta Reh tersebut berhasil diabadikan oleh fotografer HM Neeb. Fotonya masih tersimpan dengan baik hingga sekarang. Dalam foto tersebut terlihat serdadu marchaussee tanpa belas kasihan berpose di atas mayat-mayat penduduk.

Tanah Gayo sebelumnya tidak pernah dimasuki orang Eropa. Bulan Maret tahun itu Jesajas Pongoh meninggalkan Lho’Seumawe Aceh, dan tiba 5 bulan kemudian di Sibolga (sekarang Sumatera Utara).

Disebutkan di tanggal 18 Maret 1904 Jesajas Pongoh dengan gagah-berani mengambil alih bukit Gemoejang di Gajo Loe Os, meski ditembaki dan terluka lengan kanannya.

Dengan beslit Gubernemen tanggal 18 April 1905 ia memperoleh eervol vermeld untuk tindakannya selama ekspedisi di tanah Gayo dan Alas bulan Februari sampai Juli 1904.Pada 4 Mei 1927 bersama 27 penyandang Ridder Militaire Willems Orde dari perang Aceh, ia pergi ke Belanda sebagai utusan tentara Hindia-Belanda menghadiri pemakaman Letnan Jenderal J.B.van Heuts, mantan Gubernur Jenderal. Di Huis ten Bosch Den Haag, ia berkesempatan bertemu Ratu (Wilhelmina), Putri (Juliana) dan Pangeran Hendrik. Ayah enam anak ini kemudian mengaku ketika dia mendapat kehormatan berjabat tangan lalu berbicara dengan Ratu Belanda, merupakan salah satu momen paling indah dalam hidupnya. 

Ketika pensiunan Sersan Jesajas Pongoh meninggal di Rumah Sakit Militer di Surabaya pukul 04.00 pagi hari Kamis tanggal 11 Oktober 1934, ia menerima penghormatan luar biasa dan dimakamkan dengan upacara kebesaran militer. Koran-koran Hindia-Belanda, antara lain Soerabaiasch-Handelsblad, hari itu juga, sengaja menurunkan berita kehilangan veteran dari salah satu prajurit paling berani, menyebut penyandang Militaire Willems Orde Klas 3 itu sebagai "PAHLAWAN ACEH".

MARSOSE di perang aceh. Pasukan ini bengis sekali tidak terima tawanan perang sama sekali.Operasi lapangan siang malam dengan Mauser pendek+klewang+pisau.

Marsose merupakan bagian (special forces) dari kepolisian jaman hindia belanda atau tentara KNIL. Yg kita tau aslinya police special force yg dibentuk pada waktu itu utk memburu gerilyawan atjeh, kebanyakan mereka TOU MINAHASA karena terkenal dengan karakternya yang Pandai,Gagah Berani!

Kesatuan Marsose (Marechausse) lebih tua dari KNIL(1836), bahkan lebih tua dari USMC (1797), di bentuk oleh Raja Willem I dengan nama 'Gendar Marjie', karena kehilangan puluhan ribu sekitar 70.000 personil (40.000 versi Belanda) pada perang Napoleon ketika melawan Prancis, maka di re-organisir kembali dengan nama Marechausse, kepayahan dlm perang melawan Sultan Hasanudin di Makassar  1660 sekalipun akhirnya Hasanudin menyerah kalah setelah tiga kali gelombang serangan KNIL yg terakhir diperkuat oleh Detasemen Zeni pimpinan Kapten (titulair) Pratasik yg juga penangkap keturunan raja raja Banjar (Banjarmasin) dan mengasingkan mereka ke Manado yg kemudian menjadi kampung Banjer.. Setelah kedua perang tersebut maka diputuskan untuk mengirimkan Marechausse dari Kerajaan Belanda untuk memperkuat posisi KNIL di Dutch East Indische, dan awal perang Aceh 1871 Korps Marsose di gagas dan berdiri thn 1873 di Dutch East Indische setelah perang Aceh selesai setelah tujuh kali perang nama Brigade Marsose ke 10 melambung ke langit terkenal sampai ke Eropa, Marsose kemudian di tarik selesai Perang Dunia I, dan oleh Ratu BEATRIX di tetapkan sebagai pasukan pengawal khusus kerajaan Belanda dengan predikat - KONINGKLIJKE DE MARECHAUSSE atau di Inggris setara dengan the Household Mounted Cavalry Regiment pasukan berkuda pengawal kerajaan atau setara dengan the Royal Irish Guard atau the Royal Scots Guard.

Tou Minahasa yang masuk ke dalam Marsose tergabung ke dalam regu Amboineesche.

Keberanian Tou Minahasa dibuktikan dengan puluhan Tou Minahasa meraih tanda jasa keberanian tertinggi Ridder Militaire Willems Orde, dan lebih seratus lainnya menerima medali kehormatan (eere-medaille) Orde van Oranje-Nassau, terutama medali zilver (perak) dan brons (kuningan), tapi jarang memperoleh medali emas

(gouden). Tanda jasanya dikeluarkan dengan beslit kerajaan . Kemudian, dengan beslit Gubernur Jenderal, medali- terutama juga--, zilver dan bronzen voor moed en trouw, lalu

voor moed, beleid en trouw.  Ada pula penghargaan eervol vermeld (kroontjes). Semua penghargaan tanda jasa, baik dari koninklijk mau pun dari Gubernur Jenderal

selalu disertai pedang kehormatan. Para penerima berbagai penghargaan Belanda bertugas sebagai tentara dalam

berbagai operasi militer di Aceh pada Tahun 1877 setidaknya yang di ketahui ada

sembilan orang. Dari operasi tanggal 28

Desember 1875 hingga 9 Maret 1876, melalui beslit Gubernur Jenderal tanggal 10 Mei 1877

nomor 17, sebanyak lima orang

fuselier Amboineesche asal Minahasa dalam Batalion Infantri ke-3 memperoleh penghargaan medali tanda jasa Bronzen. Mereka adalah J.Dumanauw,J.Wagiu, S.A.Nelwan,Rarumangkay (ditulis Rarumangky), dan J.Rindengan(ditulis Rindingan). Fuselier lain A.Posumah (ditulis Pasuma), menerima eervol vermeld. Masih di tahun 1877, dengan beslit kerajaan tanggal 13 September 1877, tiga orang Minahasa

menerima Ridder Klas 4 Militaire

Willems Orde, berdampingan dengan perwira tinggi sampai bintara berkebangsaan Belanda.

Mereka sekaligus memperoleh kenaikan pangkat istimewa.Ketiganya adalah: A.O.Malonda yang dipromosi dari Fuselier jadi

Kopral. Lalu  A.Dengah dan D.Rotty menjadi Kopral. Tahun 1897, dengan beslit Koninklijk nomor 59 tanggal 24 Mei,  lima orang Minahasa dalam Amboineesche, untuk jasa dalam operasi militer di Aceh bulan

Maret-April 1896, memperoleh Ridder Militaire Willems Orde Klas 4. Masing-masing: Sersan

H.Warankiran, Sersan J.Moningka,Fuselier J.Singal. Lalu tiga orang lainnya J.Walewangko, B.Kalalo dan A.W.Lontoh, sekalian memperoleh promosi menjadi kopral. Kemudian banyak orang Minahasa lain, berturut menerima Ridder

Militaire Willems Orde Klas 4.Untuk operasi militer di Aceh semester kedua 1900,

Amboineesche Fuselier B.Kapoh menerima dengan beslit koninklijk 3 Juni 1901. Lalu

Marechausse Jesajas Pongoh menerima tahun 1903. Dan, tahun 1905 dari operasi di Gajo en

Alaslanden (Tanah Gayo dan Alas) yang berlangsung bulan Februari-Juli 1904, dengan beslit 10 April 1905 lima orang Amboineesche

Marechausse asal Minahasa memperoleh Ridder Militaire Willems Orde Klas 4.Mereka adalah: R.Sinjal, L.Sumampow, A.Makal, S.Tanod dan A.Sondah. Fuselier M.Rambing memperoleh Militaire Willems Orde Klas 4

untuk operasi militer di Aceh tahun 1906 dengan beslit 10 Agustus, Sersan Amboineesche Marechaussee K.Wanej asal Rumoong menerima dengan beslit 5 Desember 1906 untuk ekspedisi di Tanah Gayo

dan Alas. Dalam operasi militer di Sulawesi

(Selatan), selama periode 12 Juli

1906 sampai 1 Agustus 1906,Sersan Amboineesche Jesajas Pongoh (untuk kali kedua) dengan beslit kerajaan tanggal 28 Maret 1907, menerima bintang Ridders

Militaire Willem Orde Klas 3. Penghargaan buat Jesajas Pongoh ini merupakan sebuah peristiwa yang sangat luar biasa dan

langka, apalagi untuk tentara pribumi (Inheemsche militairen). Tahun 1907 banyak orang Minahasa menggondol penghargaan.

Bersama Jesajas Pongoh. 

Tahun 1895 Pengikut Teuku Oemar di tangkap dan di buang di Minahasa antara lain seperti Tengku Machmud.

Berikut adalah Lagu penyemangat :

Marsosê, marsosê,

' t I s t e r l a l o e marsosê.

H a r i - h a r i naik goenoeng

' t I s t e r l a l o e marsosê.

Marsosê, marsosê,

Hantem sadja marsosê.

Satoe mati g a n t i sepoeloeh

' t I s t e r l a l o e marsosê.

Marsosê, marsosê,

't I s t e r l a l o e marsosê.

H a r i - h a r i salah kelamboe

' t I s t e r l a l o e marsosê.

Marsosê, marsosê,

' t I s t e r l a l o e marsosê.

H a r i - h a r i potong A t j e h

' t Is t e r l a l o e marsosê!

Rangkuman dari berbagai sumber.

Jikalau ada yang ingin menambahkan ceritanya silahkan tambahkan di kolom komentar.

Posting Komentar untuk "Sejarah Aceh - Marsose dari Minahasa pada saat Perang Aceh"